“Tanpa Izin Ratusan warga Nagori sihaporas coba tanami jagung dilahan konsesi PT.TPL, akibatnya Humas dan 8 orang Karyawan PT.TPL Terluka dihajar Warga ,Peseropun Buat Pengaduan kePolres Simalungun’

681

PotretIndonesianews.com SIMALUNGUN (16/9).

Pihak PT.Toba Pulp Lestari Tbk atau PT TPL sangat menyayangkan terjadinya tindakan anarkis yang dilakukan masyarakat Nagori (Desa) Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin (16/9/19).

Adapun Tindakan warga yang menanami jagung dilahan konsesi yang baru siap dipanen oleh TPL, membuat karyawan bersama Humas PT TPL Sektor Aek Nauli Bahara Sibuea terjun langsung ke lokasi penanaman jangung yang dilakukan warga Sihaporas dilahan konsesi.

Tak terima main tanam begitu saja dilahan PT TPL, Bahara pun mengingatkan warga sekaligus berupaya menghentikan tindakan ratusan warga tersebut yang menanami jagung dengan alat pacul.

Akibat tindakan dan penghentian dari pihak PT TPL, berujung pemukulan oleh warga Sihaporas terhadap karyawan PT TPL dilokasi kejadian yang mengakibatkan luka berat pada seorang karyawan PT.TPL.

Tindakan kekerasan warga penanaman
di lahan konsesi tersebut mengakibatkan 1 orang karyawan PT TPL mengalami luka berat dan 8 orang mengalami luka ringan.
Adapun para korban luka dan memar diantaranya Bahara Sibuea, Ricky Silaen, Agus Duse Damanik, Pedrus Simbolon, Agus suryadi, Hokkop Siahaan, Micheal Panjaitan, Haposan Sitorus,
Mesgianto, dan Rizal Manurung. yang kesemuanya korban adalah karyawan PT.TPL.

Dibantu oleh pihak Security yang berada dilokasi kejadian, para korban luka itu dikarikan ke klinik sector Aek Nauli guna mendapatkan pertolongan dari tim medis yang ada.

Berhubung adanya luka dari sebahagian korban yang cukup serius, yakn Bahara dan dua karyawan lainnya dirujuk ke Rumah sakit Vita Insani Pematangsiantar.

Diketahui bahwa Bahara Sibuea kini masih dalam rawat inap karena mengalami patah tulang di tangan kanan, pembengkakan di pinggang dan pembengkakan di kepala. Sementara yang lainnya diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pengobatan dari klinik dan rumah sakit.

Menurut pihak Management PT TPL melalui Manager Corporate Communications Norma Patty Nandini Hutajulu, kronologisnya melalui informasi dari salah seorang Karyawan PT TPL melalui selulernya dari pukul 10.30 WIB telah terjadi bentrok antara personil Humas dan keamanan PT TPL dengan masyarakat Desa Sihaporas di Compartement Compt (Blok B.553).

Kejadian ini berawal sekitar pukul 10.00 WIB; dimana personil keamanan yang berjaga di Compt. B.068 dan B.081 memberikan laporan bahwa ada kurang lebih 100 orang warga Sihaporas melakukan penanaman jagung di Compt. B.553, Areal yang dimaksud adalah lahan hutan konsesi yang telah selesai dipanen.

Setelah itu, tim keamanan dan Humas TPL Bahara S, bergerak menuju areal tersebut dan melihat penanaman jagung yang dilakukan oleh masyarakat di dalam konsesi PT TPL. Humas TPL melakukan upaya dialog damai dan menyampaikan kepada warga agar kegiatan penanaman jagung diberhentikan terlebih dahulu dan diadakan musyawarah dan dibicarakan secara baik-baik.

Saat upaya dialog damai dilaksanakan oleh Humas TPL, untuk dapat duduk berbicara bersama di salah satu tepian lokasi, warga Sihaporas bersikeras melakukan penanaman sembari mengeluarkan ancaman yang membuat suasana menjadi memanas hingga bentrokan pun pecah, apalagi saat salah seorang warga menolak mengindahkan upaya dialog dan langsung memukulkan balok kayu kepada personil keamanan TPL Pedrua Simbolon, hingga terjatuh dilokasi kejadian.

“Entah siapa yang mengomando, masyarakat lainnya juga mengambil cangkul dan kayu, dan memukul Bahara Sibuea serta memukul para personil keamanan PT TPL yang turut berjaga dikawasan area tersebut” jelas norma

Lanjut Norma lagi, bahwa areal penanaman tersebut merupakan areal konsesi PT TPL yang telah memiliki izin dan telah memasuki rotasi tanam ekaliptus yang ke-empat.

Sementara itu Direktur PT TPL Mulia Nauli saat dikonfirmasi mengatakan,
“ Bahwa izin konsesi PT TPL berada di kawasan hutan negara. Pada pelaksanaan operasionalnya, persero selalu menghormati hak-hak masyarakat dan komunitas adat yang berada dalam wilayah kerja persero dengan mengedepankan proses dialog yang terbuka yang dilandasi undang-undang dan peraturan yang berlaku dalam penyelesaian masalahnya,” ucap Mulia.

Atas Kejadian ini telah dilaporkan oleh pihak Persero (PT TPL) kepada pihak berwenang dan berwajib, sebagai salah satu tanggung jawab persero sebagai pemegang izin pengelolaan konsesi yang diberikan negara.

Adapun penyelesaian konflik lahan, pihak persero melakukan berbagai upaya positif untuk mengatasi penyelesain klaim dengan mediasi yang melibatkan lembaga pemerintahan sebagaimana diwajibkan oleh izin yang dipegang oleh persero, dan musyawarah dengan masyarakat hingga terwujudnya program kemitraan untuk operasional yang berkelanjutan sebagaimana yang diamanahkan Perhutanan Sosial dan ditetapkan oleh pemerintah melalui SK Menhut Nomor P.83/MenLhk/Setjen/KUM.1/10/2016.

Persero bersama KPH melakukan sosialisasinya kepada masyarakat dengan pertemuan yang intensif dengan komunitas adat, baik di perkampungan masyarakat, di kantor Kepala Desa, dan di areal konsesi persero.

Dalam melakukan penyelesaian dalam amanah konsep Perhutanan Sosial, perusahaan membangun program Tanaman Kehidupan berupa tanaman aren, petai, jengkol, dll dan tumpang sari, yg hasilnya diperuntukkan untuk masyarakat.

Penyelesaian klaim hutan adat sendiri mengikuti proses pengakuan hutan adat sesuai dengan aturan dan peraturan yang berlaku, antra lain; melakukan kajian kebenaraan keberadaan hutan adat tersebut, salah satunya adanya PERDA Masyarakat Hutan Adat.

• Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) PT Toba Pulp Lestari Tbk atau PT TPL diberikan oleh Kementerian Kehutanan melalui SK Menhut No. 493/KPTS II/1992 jo SK. 179/Menlhk/Sedjen/HPL.0/4/2017 yang tersebar di beberapa kabupaten kota di Sumatera Utara.

Kapolsek Sidamanik Iptu H. Marpaung. S, Sos yang dikinfirmasi awak media PI-NEWS.COM terkait kejadian tersebut membenarkan adanya kejadian tersebut.
“Benar adanya kejadian tersebut namun karena kejadian itu menyangkut para korban dan ratusan warga yang ada disana, maka penanganan kasus tersebut langsung ditangani Polres Simalungun dan laporan pihak korban (PT TPL) diarahkan ke Polres Simalungun.”Pungkasnya.

Hingga berita ini dikirimkan keredaksi Potret Indonesia News (PI-News), Polres Simalungun masih menangani permasalahan itu, sekaligus melakukan pengamanan di area PT TPL Aek Nauli. (ZeNo).

Ket photo :
Humas PT TPL Sektor Aek Nauli Bahara S (pake jaket bentuk rompi hitam) bersama security saat mengamankan dan menghalau warga yang menanami jagung dilahan konsesi PT TPL.