Soal Revitalisasi Pasar Horas, Setelah Walikota Giliran Sekda Pematangsiantar Diperiksa Poldasu

178

PI NEWS.com.MEDAN ||| Sekretaris Daerah (Sekda) Pematangsiantar Budi Utari Siregar diperiksa penyidik Subdit II Harta Benda Bangunan dan Tanah (Harda Bangtah) Ditreskrimum Polda Sumut, Selasa (10/9/2019). Sebelumnya dalam kasus ini, penyidik sudah memeriksa Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah Noor pada Jumat (6/9).

“Ya benar, yang bersangkutan (Sekda) kita periksa,” sebut Dirkrimum Polda Sumut Kombes Pol Andi Rian Djajadi, Selasa (10/9).

Sekda lanjut Andi, diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan penipuan atas laporan Rusdi Taslim.

“Kita masih memeriksa saksi-saksi terkait dugaan penipuan ini. Kemarin sudah juga kita lakukan pemeriksaan kepada Wali Kota nya. Dan sekarang giliran Sekda nya,” ujarnya.

Sementara itu, Kasubdit II Harda Bangtah AKBP Edison Sitepu, mengatakan Sekda Siantar Budi Utari Siregar diperiksa pada Selasa (10/9) sekitar pukul 10.00 WIB.
“Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan penipuan pembangunan proyek Pasar Horas,” sebut dia.

Ia mengaku sudah enam orang yang diperiksa sebagai saksi, termasuk saksi pelapor. “Rusdi Taslim juga sudah kita periksa terkait kasus ini,” ujarnya.

Kasus yang menyeret nama Wali Kota dan Sekda Pematangsiantar ini atas pelapor Rudi Taslim dan terlapor Benny Harianto Sihotang, masalah proyek di tahun 2018. Informasi diperoleh, proyek revitalisasi Pasar Horas Pematangsiantar diproyeksikan tahun 2018 dengan pagu sebesar Rp 24 miliar. Oleh pihak PD Pasar Horas yang kala itu Dirutnya Benny Harianto Sihotang, memenangkan satu perusahaan milik Fernando Nainggolan alias Moses bersama Rusdi Taslim.

Seiring berjalannya waktu, Benny Sihotang meminta uang kepada rekanan (Rusdi Taslim). Oleh Rusdi Taslim menyuruh anggotanya bernama Didit Cemerlang yang kemudian uang diberikan kepada Fernando Nainggolan alias Moses.

Oleh Fernando Nainggolan alias Moses mengirim lewat rekening kepada Benny Harianto Sihotang. Akan tetapi, proyek pembangunan Pasar Horas tidak ada alias fiktif. Akibat kejadian itu, Rusdi Taslim mengaku mengalami kerugian Rp1,7 miliar.

Karena menjadi korban penipuan, sehigga Rusdi Taslim melaporkan kasus itu ke Poldasu ditangani Subdit IV/Renakta. Tapi karena dinilai penangananya terkesan lambat sehingga diserahkan ke Subdit II/Harda-Bangtah.||| Damos Simatupang

Editor : Zul