PT. Tapian Nadenggan Rampas Hak Masyarakat,AMPMB Gelar Unras

274

Potret Indonesiaku |PALUTA/// Aliansi Mahasiswa Pemuda Masyarakat Bersatu (AMPMB) Halongonan Timur menggelar aksi unjuk rasa (Unras) terhadap PT. Tapian Nadenggan yang beralamat Kecamatan Halongonan Timur Padanglawas Utara, Selasa kemarin.
Pengawalan ketat oleh pihak Polisi/Brimob dipinpin oleh Ipda E. Tappubolon dari Polsek Padangbolak Gunungtua Padanglawas Utara. Dibantu oleh TNI dipinpin oleh Danramil Gunungtua Kapten Pahlawan.

Unjukrasa AMPMB Halongonan Timur melalui Koordinator Lapangan Habibi P. Harahap putara asli Desa Siancimun Kecamatan Halongonan Timur Padanglawas Utara mengisahkan dalam tulisanya,”350 tahun lamanya Indonesia ini dijajah oleh Belanda penuh dengan penyiksaan penderitaan gelimang air mata dan tumpah darah, para pejuang berguguran di medan perang hanya demi meraih suatu tujuan kemerdekaan, 350 tahun bukanlah waktu dan tempo yang singkat untuk dilalui.

Menuju momen-momen kemerdekaan yang jatuh pada hari jum’ at 17 Agustus 2018 seluruh elemen Bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan yang ke 73 tahun penuh dengan euforia kebahagiaan, dalam momen-momen kemerdekaan bangsa ini pula kami sampaikan amanat penderitaan rakyat yang sudah lama kami nikmati sebagai teman karib dalam kehidupan.

Kekayaan negeri ini tanah nenek moyang kami kalian ambil hanya dengan pago-pago kalian mamfaatkan kesuburan tanah, kemiskinan dan keterbelakangan ilmu yang dimiliki nenek moyang kami lalu engkau tempatkan para pendatang yang memiliki segudang ilmu dan pengalaman dengan berbagai macam jabatan, merekrut tenaga kerja yang serendah-rendahnya sampai dengan jabatan yang setingi-tingginya mayoritas pendatang hampir seluruhnya, lalu membawa saudara-saudaramu ditanah kelahiran kami, kalian kaya dan semakin kaya raya, kalian bisa bersekolah dengan setinggi-tingginya, minoritas warga yang bekerja dan ingin masuk kerja harus punya saudara yang berpengaruh, beking dan menyiapkan sejumlah pundi-pundi rupiah, kami hanya sebagai perantau dan penumpang di kampung sendiri, kami hanya bisa mempertontonkan kekayaanmu, kami hanya menghirup sisa dan sampah.

Ditambah dengan para petinggi dan pemangku kepentingan yang tidak berpihak. Jauh sebelumnya Bung Karno tercinta pernah berkata dalam pidatonya,” Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan bangsa sendiri”. Roh dan jelmaan Belanda yang begitu kejam dan amat keji sesungguhnya masih nyata bergentayangan dan mendarah daging dalam kehidupan para pemangku kepentingan.

Bertahun-tahun lamanya sudah berlalu untuk dinikmati, kemiskinan, pengangguran yang semakin menjamur kesempatan kerja yang semakin sempit dan pertumbuhan populasi angka kelahiran yang tidak sebanding yang berujung pada tindakan tidak terpuji tampa memikirkan efek yang iya terima. Jika kita mengkaji secara mendalam mengapa seseorang melakukan tindakan tidak terpuji dengan mengambil Tandan Buah Segar (TBS) milik PT.Tapian Nadenggan tampa hak, apakah untuk berpoya-poya, apakah untuk bukan poya-poya yang dia harapkan, bukan menambahi hartanya yang diharapkan, melainkan demi pemperjuangkan sejengkal perut anak istri dirumah dan biaya pendidikan anak-anaknya untuk tetap bisa bersekolah, yang tertangkap disiksa tampa prikemanusiaan dan keadilan tak ubahnya diperlakukan seperti binatang oleh tim keamanan perusahaan dan tim bantuan luar yang disewa yang seyogiyanya menjaga kedaulatan Negara Repobik Indonesia (NKRI) dan obyek vital Negara.

Seandainya tanah kami masih bisa kami kuasai dan di usahai, tentunya kemiakinan jauh dari kehidupan kami, perut ini tidak akan kelaparan, tindakan tidak terpuji mengambil tampak hak tidak akan terjadi, anak-anak bisa memperoleh pendidikan yang layak seperti bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat.

Kami turut bertanya bagaimana nasib dan masa depan anak bangsa yang sepenuhnya berada dipundak generasi dan pemuda jika generasi pemudanya bertindak tidak terpuji, para orangtua dan bangsa ini merasa sangat dirugikan dengan terracuninya pola pikir pemuda.
Hadirnya perusahaan raksasa PT. Tapian Nadenggan/Sinar Mas dan nama lainnya di tanah nenek moyang kita seyogiyanya membawa dampak positif terhadap iklim ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Beberapa tahun yang lalu kita pernah mendengar sunat massal, pembagian paket gula manis, dan lainnya.

Kini nama itu sudah menghilang dan timbulnya penderitaan baru, sungai mengalami kekeringan sehingga masyarakat terpaksa membeli air bersih setiap hari dikala musim kemarau 1 (satu) minggu lamanya akibat dari tata pengelolaan/penanaman kelapa sawit yang begitu dekat dengan sungai, sehingga masyarakatpun kembali dirugikan.
Akses jalan penghubung yang dahulu dan sekarang dinilai sangat merugikan masyarakat dengan banyaknya portal penutup badan jalan, sulitnya orang-orang yang mempunyai kepentingan hubumgan kekeluargaan melewati jalan perkebunan sehingga perlu dibuka, sulitnya ternak masyarakat masuk kedalam perkebunan, dan paret/ parit untuk keamanan kebun terlalu dekat dengan bahu jalan disepanjang Jalan yang mengakibatkan longsor.

Dalam orasi unjukrasa 6 point tuntutan prioritas Aliansi Mahasiswa Pemuda Masyarakat Bersatu Halongonan Timur menuntut, “Putra-putri daerah secepatnya direkrut sebanyak-banyaknya untuk bekerja di PT. Tapian Nadenggan, realisasikan kebun plasma dari kebun inti, realisasikan CSR secara rutin berkelanjutan: pendidikan (beasiswa berperestasi), kesehatan (posyandu dan lainnya), infrastruktur jalan sarana dan prasarana umum, Tim bantuan luar yang disewa yang seyogiyanya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Repoblik Indonesia (NKRI) dan obyek vital Negara secepatnya di kembalikan kepangkuan ibu pertiwi,

Penanaman budidaya kelapa sawit yang dilakukan PT. Tapian Nadenggan yang berada disekitar sungai agar langsung ditebangi sesuai ketentuan DAS (Daerah Aliran Sungai), dan Kontraktor/rekanan lokal jangan hanya sebagai pelengkap, disuarakan Koordinator Lapangan Habibi P. Harahap.

Pihak perusahan PT. Tapian Nadenggan melalui mediasi Pihak Polsek Padang Bolak Ipda E. Tampubolon memberitahu kepada pengunjuk rasa memperbolehkan 5 orang utusan masuk menemui maneger untuk berdiskusi. Namun pengunjuk rasa menolak karena unjuk rasa sudah yang kedua kali dilakukan pihak perusahan belum memberikan jawaban yang pasti atas tuntutan yang diglontorkan AMPMB Halongonan Timur.
Pengunjukrasa meminta proses diskusi dilakukan diluar kantor dibawah pohon diangkatkan kursi meja biar semua jawaban pihak manejemen perusahan PT. Tapian Nadenggan sama-sama didengar oleh semua yang hadir dalam unjuk rasa, harapnya.

Pihak perusahaan PT. Tapian Nadenggan tidak dapat menyaggupi. Utusan pihak perusahan berjanji akan menyampaikan kepinpinan dulu.
Lalu pihak pengunjuk rasa tidak puas atas jawaban dari pihak utusan perusahan. Pengunjukrasa bubarkan diri dengan seportif dan berjanji akan berujukrasa kembali dengan membawa masa yang lebih banyak lagi sampai jawaban tuntutan dikabulkan perusahaan.///Haryan Hrp

Editor : Zul