‘ Merajut Citra Bidan Desa di Bumi Cendrawasih “

376

Potret Indonesia News.com Papua Timur.(05/02/2020).

Berawal dari niat hatinya menjadi seorang tenaga medis yakni sebagai Bidan Persalinan ibu Hamil yang nantinya akan banyak menyelamatkan Nyawa Ibu yang hendak bersalin dan Bayi-bayi muda generasi Bangsa.

Visi Sosial inilah yang membuat Elisabeth Pasaribu Amkeb (30) Wanita Suku Batak Toba kelahiran Parsoburan Kabupaten Tobasa Provinsi Sumut dari sejak kecil ingin menggapai cita-citanya sebagai seorang Bidan dimana Sabeth meneruskan tamatan slta dan memasuki sekolah Kebidanan di salah satu sekolah tinggi kesehatan diTapanuli Utara.Sumut.

Jelang tamat Sekolah Sarjana Kebidanan Elsabeth pun kembali bermaksud mencoba menjadi CPNS di Dinas Kesehatan dan mendapat kesempatan untuk menang ujian CPNS.

Bermodalkan Ijazah Kebidanan tamatan tahun 2010 Elisabeth mengikuti ujian CPNS ditahun dia Tamat dan memang sudah Cita-citanya Wanita muda ini Lulus CPNS ditahun yang sama lalu ditempatkan meniti Karir Kebidanannya di Negeri Bumi Cendrawasih Papua Timur tepatnya dirumah sakit umum daerah Mulia Puncak jaya.

Belajar dari pengalaman sekolah kebidanan di AKBID Tarutung Tapanuli Utara.yang ditamatkannya ditahun 2010 ,Eisabeth yang biasa disapa dengan nama panggilan Ibu SaBeth pasaribu memulai Karir Bidannya dirumah sakit Umum Daerah Kabupaten Mulia Puncak Jaya Papua Timur dengan Penuh Rasa Percaya diri dan berkenyakinan bahwa niat kerja yang baik dan iklas pasti akan menghasilkan karya yang baik juga.

Saat diwawancarai awak.media PI-NEWS.COM VIA HP/WA Elisabeth hanya bisa mensyukuri segala kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya dimana dia bisa berkarya dan mengabdi Kepada Negara sebagai Bidan diBumi Cendrawasih memasuki tahun yang ke-10 ini.

“Saya sangar bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberikan saya kesempatan untuk mengabdi sebagai bidan dinegeri Provinsi Papua ini dan bisa menjadi berkat bagi kaum ibu dan anak-anak disini yang membutuhkan pertolongan Bidan..” Jelas EliSabeth dengan Nada Bersyukur.

Adapun Tantangan didaerah saat mulai bekerja didaerah terpencil adalah Rasa Sepi dan kesadaran warga yang masih tahap panca robah meski saat ini masyarakat mulai menyadari bahwa melahirkan dirumah itu kurang baik dan beresiko tinggi bagi seorang ibu yang sedang melakukan persalinan.

Teringat akan pengalaman kerjanya Bidan Sabeth Pasaribu menceritakan hal Pengalaman menarik diawal tahun bekerja sebagai bidan di rumah sakit didaerah Kabupaten mulia puncak jaya Papua Timur yakni saat sabeth yang kala itu masih bidan baru dijemput oleh warga dirumah dinasnya untuk menolong persalinan seorang ibu yang ada di daerah terpencil didesa Gurage daerah mulia jaya ditahun 2011 .

Dimana rumah sipasien berada cukup jauh dari kota Kabupaten serta suasana tengah malam yang cukup menyeramkan saat itu masa konflik namun persalinan akhirnya berlangsung dengan Aman dan Baik adanya ,karena seorang tenaga kesehatan memang harus bisa sabar dan menerima situasi dan keadaan apapun dalam dinas kerjanya serta mampu bersikap tenang menghadapi cara hidup dan pola pikir masyarakat sekitar warga pedalaman yang harus dimaklumi dan semoga hari demi hari pola pikir masyarakat mulai berkembang dan mampu menerima kemajuan Zaman yang membawa kebaikan bagi masyarakat itu sendiri.’papar Sabeth dengan terperinci.

Sebagai tenaga kesehatan didaerah terpencil pengabdiannya yang memasuki 10 tahun dinas bisa membuat para bidan yang baru berdinas dibumi Papua ini untuk tetap semangat dalam mengabdikan diri guna menjalankan Amanat yang di berikan negara kepada seorang tenaga medis hingga negeri Indonesia ini mengalami pemerataan pembangunan didunia kesehatan ibu dan anak.(dms)

Ket photo :
Elisabeth Pasaribu sedang berdinas bidan.