Lahan Gambut di Areal PT. RAPP Terbakar !! Kinerja BRG Dipertanyakan

202

Potret Indonesiaku.com | PEKANBARU///Semangat restorasi lahan gambut di riau sebagaimana tertuang dalam PP No.1 Tahun 2016, diduga tidak berjalan sesuai target, berdasarkan temuan investigasi Jikalahari. Jumat, 25/8/2018.

Pasalnya, berdasarkan informasi pres reles jikalahari, dari target 2 juta Ha lahan gambut di Indonesia yang akan di restorasi oleh BRG, selama 5 tahun, dengan rincian persentase, 30% ditahun 2016, dan 20% ditahun 2017, dan tahun 2018 dan riau semestinya di tahun 2017 telah direstorasi lahan gambutnya sebesar 188.409 Ha, faktanya hingga kini BRG masih berhasil merestorasi lahan gambut seluas 27 ribu hektar.

,”Dari tahun 2016 sampai saat ini, BRG baru merealisasikan restorasi gambut hanya seluas 27 ribu hektar, atau 3% dari target restorasi gambut di riau,” kata Made Ali, koordinator Jikalahari.

Menurut Made, wajar jika gambut riau, termasuk lahan gambut di wilayah perusahaan bubur kertas PT.RAPP kembali terbakar, yang konon merupakan areal prioritas restorasi BRG.

Made juga menyesalkan kinerja gubernur riau, Arsyadjuliandi rachman dengan diterbitkanya SK Kpts. 350/III/2016 sebagaimana diubah dengan keputusan gubernur Kpts.539/V/2016 tentang tim restorasi gambut di provinsi riau, bahkan dengan SK perubahan dengan nomor Kpts.931/XII/2017 yang menjelaskan tugas TRGD serta keangotaan TRGD yang pada hakekatnya bertugas mendukung pelaksanaan kegiatan BRG.

Bahkan menurut Made Ali, komitmen BRG untuk melakukan pengawasan dan pengawalan terhadap korporasi yang lahanya terbakar pada 2014 – 2016, juga tidak terlihat, sehingga memaksa pihaknya harus melaporkan perihal tersebut kepada Nazier Foead, kepala BRG di Jakarta, yang diperolehnya berdasarkan investigasi di konsesi 49 korporasi industri HTI dan termasuk perusahaan bubur kertas PT. RAPP yang turut terbakar pada 2014-2016 lalu.

Berdasarkan konfirmasi yang dilakukan oleh wartawan aktual kepada salah satu perusahaan bubur kertas, PT. RAPP, sebagaimana disebutkan tentang masih ditemukanya operasional perusahaan itu di areal lahan gambut, melalui beberapa petinggi di perusahaan itu mengatakan, pihaknya telah berusaha mematuhi aturan pemerintah.

,”hingga saat ini perusahaan tidak melakukan penanaman di area FLEG (fungsi lindung ekosistem gambut) sesuai dgn ketentuan pemerintah,” tulis Djarot Handoko, Corporate Communications Head PT RAPP dalam WA nya.

Hal senada juga disampaikan oleh bidang humas perusahaan itu, melalui salah satu pejabat humas, Erick kepada media ini mengatakan bahwa pihaknya tetap mematuhi peraturan pemerintah.

,”Ok siap bg. Berikut tanggapannya.

Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, perusahaan sangat patuh dan taat terhadap pemerintah dan aturan perundangan yang berlaku,” katanya.

Dari investigasi Jikalahari tersebut ditemukan 36 dari 49 lahan korporasi yang terbakar dan berada di kawasan gambut dalam diantaranya 19 perusahaan HTI termasuk PT. RAPP dan PT. Rimba Rokan Lestari, PT. Bina Duta Laksana, PT. Sumatera Riang Lestari dan lain-lain.

” Hasil investigasi kami menemukan ada 6 perusahaan yang menanam kembali di areal bekas terbakar, umur Akasia yang ditemukan ada yang sekitar 1 tahun,” kata Made

Namun diakuinya, hingga saat ini belum ada tanggapan pihak BRG pusat, dimana pihaknya menduga ini adalah salah satu penyebab capaian restorasi gambut riau baru 3% yang konon disebutkan ternyata 72% target restorasi gambut berada di areal konsesi HTI dan perkebunan sawit.

” Dengan capaian target 3%, pihaknya menilai tidak adanya keseriusan BRG terhadap komitmen dan semangat restorasi gambut riau, dan oleh karena itu tidak ada jaminan penyelenggaraan Asian Games benas asap dan karhutla,”terang Made.

Kepada Media, Made juga menyampaikan pihaknya telah merekomendasikan Presiden RI Joko Widodo agar melakukan evaluasi kinerja BRG dan TRGD riau untuk melakukan percepatan pemulihan dan pengembalian fungsi hidrologis gambit akibat karhutla serta melakukan supervisi korporasi untuk merestorasi arealnya yang terbakar.///FerSi /rls

Editor : Zul