KKB ‘66 Dukung Jenderal TNI Andika Perkasa Jabat Panglima TNI

68

* Demi Terjaganya Hankamneg

PI NEWS.com MEDAN |||
Ketua Umum Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB ’66) Binsar Effendi Hutabarat dari Markas Yayasan Karya Enam-enam (YAKE) di Jl. Raya Jatinegara Timur No. 61-65 Jatinegara, Jakarta Timur, mengeluarkan rilis kepada pers (11/9/2021) dalam konteks pergantian Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang akan purna karena memasuki masa pensiun.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kini populasinya lebih dari 270 juta jiwa dan menghuni lebih dari 17 ribu pulau besar-kecil dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, urusan pertahanan dan keamanan negara (hankamneg) sangatlah vital dan strategis.

Sebab itu dalam menjaga, memelihara, dan merawatnya, menurut pendapat Ketua Umum KKB ’66 tidak harus soal aturan bergantian kepala staf yang menjadi pegangan ditengah pandemi Covid-19 yang masih belum diketahui sampai kapan selesainya.

Pasalnya menurut hemat Binsar Effendi Hutabarat yang juga Ketua Dewan Penasehat dan Pengawas Mabes Laskar Merah Putih (LMP) serta Penasehat Masyarakat Pelaut NKRI, skala prioritas justru pada bagaimana hankamneg kita bisa segera mengurangi pandemi Covid-19 sekaligus memulihkan sosial ekonomi rakyat yang penghuni daratan tersebut, agar keselamatan rakyat menjadi benar-benar diutamakan.

Kemudian sebagaimana kita ketahui bersama kelompok organisasi Papua Merdeka (OPM) yang nampaknya makin brutal mengganggu pembangunan Papua dan Papua Barat, serta membunuh warga sipil dan membakar fasilitas umum, termasuk kelompok yang masih menteror masyarakat di Poso. Tentunya medan penumpasannya hanya diwilayah daratan. Dengan demikian butuh satu komando yang benar-benar bisa mengambil kebijakan dan perintah yang tepat, terukur dan benar yang didukung kuat oleh para prajuritnya.

Kemudian kendati angka penyebaran pandemi Covid-19 melandai dan pemulihan ekonomi menggeliat bangkit, kegaduhan dalam masyarakat perihal intoleran yang muncul kepermukaan begitu marak, radikalisme dan terorisme yang juga menyertainya, yang semua itu digiatkan atau digerakkan didarat. Kebutuhan kekuatan matra darat tidak perlu dinaifkan, sebagai ujung tombak untuk menyelesaikannya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat atas aturan bergantian kepala staf untuk menduduki jabatan Panglima TNI, dan adanya Wanjakti untuk memberikan penilaian atas kompetensi dan profesionalismenya sang jenderal yang ketiga matra itu juga semuanya kredibel dan kapabel.

Namun diatas segalanya disamping tupoksinya untuk aspek memperkuat hankamneg, yang juga menjadi bagian penting dari tanggungjawab pemerintah. Pemerintah juga wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, itu juga bagian tidak terpisah dari penugasan TNI, sebagaimana kita lihat TNI juga bergiat untuk mempercepat vaksinasi untuk rakyat.

Dalam pandangan Binsar Effendi Hutabarat yang aktivis sejak tahun 1966 itu, SWOT (strength, weakness, opportunities dan threath) atau kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, juga menjadi perhatian yang serius bagi TNI. Termasuk harus selalu memperhitungkan ATHG (ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan) sebagai kewaspadaan dalam kerangka menjaga hankamneg.

Bagaimanapun dari penilaian Ketua Umum KKB ’66 Binsar Effendi Hutabarat, setiap upaya, pekerjaan, kegiatan dan tindakan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, yang dinilai atau dibuktikan dapat membahayakan keselamatan bangsa, keamanan, kedaulatan dan keutuhan NKRI, ada dalam pundak komando dan kendali Panglima TNI.

Dari sudut pandang itulah dan mohon ijin kepada Presiden Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) sebagai Panglima Tertinggi TNI-POLRI serta yang punya hak prerogatif untuk memilih, menilai akhir dan menetapkan.

KKB ’66 ungkap Binsar Effendi Hutabarat, sangat berharap nama Jenderal TNI Andika Perkasa, SE. MA. MSc. MPhil. PhD. yang Kepala Staf TNI-AD, yang masih berusia 57 tahun (21 Desember 1964) dan memiliki harta kekayaan sekitar Rp. 179 milyar. Yang karirnya pada 2002 jadi Danyon 32 Grup 3/Sandhi Yudha, Kopassus. Pada 2014 menjabat Danpas Pampres, tahun 2016 menjabat Pangkostrad, dan saat ini KSAD.

“Semoga saja jika Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai Panglima TNI pengganti Marsekal Hadi Tjahjanto bisa membangun chemistry antara tiga kepala staf dengan Menteri Pertahanan dalam mengawal modernisasi pertahanan negara ke depan”, pungkas Ketua Umum KKB ’66 Binsar Effendi Hutabarat yang didampingi Sekretaris Teddy Syamsuri.||| (***)

 

 

Kontributor : Charles Simorangkir
Editor : Zul
Sumber : Rilis KKB ’66