Kisah Pilu Mahasiswa Daerah Menggali Ilmu Diperantauan

1175

” INANGKU LAGA”

Karya : Sofianto Hengky Pardamean Padang
(Mahasiswa Universitas Andalas 2020)

Pagi ini
Adakah moment yang pernah terlintas
Seorang aku yang berdiri di atas pentas
Lagaknya seseorang yang sudah berparas
Melihat riuh keramaian dengan muka penuh memelas
Dasar aku
Si anak kampung yang berpetualang
memburu ilmu hingga ke negeri padang

Hari ini
Tepat di panggung ini
Lekat pesan berkias kata
Kusambut cerita dengan sukacita
Mengikrar sumpah purna bakti sebagai mahasiswa
Dengan bukti pemindahan tali toga
Yang kusebut dengan rangkaian wisuda
Bersama keluarga,dosen, kawan wisuda dan kawan keluarga di perantauan semua
Oh wisuda
Kau datang menyiapkan ruang tapi dengan waktu kau seolah lupa
“seharusnya kubersukacita ternyata membuatku terluka”
Semakin ku melangkah
Membuat hatiku merengkah
Sebab, Mentari datang seolah menari
Melihat hari yang kujalani
Dikala kebahagiaan tak bisa ku lalui
Bersama orang yang aku nanti
Kepada sosok ayah yang telah lama pergi

Ayah….
Disaat daku dalam timanganmu
Mentari redup dibalik awan kalbu
Ternyata, engkau tutup lantun penggiring rindu
Dengan helaian nafas terakhir memeluk sendu
menuntun dunia serasa runtuh dari dekapanku
Membias air mata pembasuh pilu
Menikam waktu deras tangis sampai beku
Tanpa kau titip pesan kepada ibu
Sebagai penghapus basah tatapku

Jujur …
Bersama sosok yang sangat akrab dipanggil ibu, hidup yang kami jalani
Merasakan pahitnya bunga- bunga kehidupan duniawi
Engkau nitip luka lara yang tak bertepi
yang harus dihadapi anak-anakmu berjuang demi sesuap nasi

Yah… Lihatlah
Hari ini aku merayakan romansa kebahagiaanku
Kuharap kedua bidadari tak bersayap harusnya berada didekatku
Namun yang kuterima hanyalah rasa kecewa menjibaku
Kebanggaan yang kuseduh bersama peliknya kesedihanku
Layaknya noah sang penjelajah waktu
Telah mengantarkanku kesini dari bangun lelahku
Demi sebuah gelar yang kuraih tanpa kau di sisiku
Aku ingin merasakan bagaimana sosok hadirmu
Berbagi, bercerita, dan bersengkama dalam pilu
Seperti orang-orang yang selalu bercanda gurau
namun, selepas kepergianmu
melengkapi kisah hidupku
Tanpa merasakan kasih sayang darimu
Dari seoarang ayah…
Apakah kau bangga disana ayahh?
Terimakasih yahh atas luka lara yang kau titip.
Kami anak-anakmu
Hanya dapat mendoakanmu saat ini
Semoga engkau tenang dipangkuan sang illahi
Semoga suatu saat nanti kita dipertemukan kembali
Bersama kenangan yang terpatri dihati
Titip rindu buat ayah

Dariku.. Buatmu hadirin sekalian yang ada di ruangan ini
Jikalau punya ayah
Hargai tanpa tawar
Sayangi tanpa alasan
Cintai tanpa membandingkan
Sejatinya seorang ayah adalah teladan buat anak-anaknya
Jikalau tiada
Hidup dipenuhi penyesalan

Ayahhhh…
Lihatlah perjuangan ibu saat ini
Dikala Waktu bergulir menyusutkan usia dari jiwa
Bersama rapuh raga yang kian merenta
Diselimuti segala kepedihan yang menggulita
Dia berjuang sendiri menghidupi kami dengan mulia
Dibawah celah sengatan cahaya mentari kedunia
deras keringat seperti kujuran hujan menimpa
Sekalipun nyawa jadi taruhannya
Dia selalu tabah menjalani
Yang berharap kelak berguna bagi nusa dan bangsa
“yang kutau dialah bidadari tak bersayap itu”
Rela menjadi seorang ayah jikalau pilihan hidup bertanya.
Jikalaulah ayah masih ada
Mungkin aku tak serapuh ini
Mungkin ibu tak pernah sesedih ini
Mungkin kami tak semelarat ini…
Walaupun begitu, jiwa raga ini tetap semangat
Karna ku masih punya sang pemilik hati yang lembut
yaitu ibu..

Yang selalu menggenggam erat cita-citaku
Demi masa depan yang tak pernah kuragu
Untuk menggapai mimpi
Sebab, didalam doanya selalu menyebut namaku
Memberiku kekuatan sampai menembus dinding rohku
Walau kutau beribu sembilu datang menyayatku
Ibu…

Engkau rela berdusta menanggung derita
Dari lamanya kandungan hingga ku dewasa
Merengek, membandel, menyiksa, adalah sarapanmu setiap hari
Tumpukan kesakitan dan kepedihan telah mengerogoti
Kau tetap tangguh melawan tanpa kenal waktu lagi
Rangkaian tuah kalimatmu semangat terus tersemat
Menjadi perisai pusaka penampik ribuan hujat

“Dikala lapar menerpa kau terseyum lebar kepadaku”
Dan berbisik “aku masih kenyang, makanlah nak”
“tetapi itu semua, hanyalah kebohongan mu belaka”
Kau selimuti kesedihanmu dibalik senyuman
Agar aku selalu melangkah menyusuri masa depan
Meyakinkaku bahwa tak tejadi apa apa
Dengan tulus kau rela seperti lilin membakar diri
Agar kepuasan diri bisa terpenuhi
Egonya aku yang selalu lupa bertanya kembali
Padahal secerca hinaan telah menghantui
Yakinlah ibu, amanah yang kau pejamkan di hati ini
Tak akan pernah sirna ditelan kelam gulita membadai

Ibu…
Aku sangat iri padamu
Aku ingin menjadi seperti dirimu
Tak lekang di hari panas Tak lapuk dikala hujan
Sebab, hampir saja kumenyerahkan hidup
Jika tak saja mendengar sedikit “kata” rindu darimu
Mungkin dalam sekejap kedipan mata
helatan nafas dari jiwa raga telah hilang melayang
Tapi aku disadarkan oleh sebutan khasmu
Benih yang ditabur akan menuai kebahagiaan
Berkat pengorbanan doa dan dukunganmu
Seperti sang Surya telah membuka jendelanya
meniti secercah harapan yang baru
Selalu menghiasi penuh hari hariku
Membuatku tegar berada disini
Kepadamu sang pemilik segala maaf dan ampun
Kusembah sujud kepadamu
Berikan kesehatan dan umur “yang” panjang untuk ibuku
“Sisakan waktu ku, untuk membalas semua jasanya”
“Walaupun kutau itu tak akan cukup untuk membalas nya dengan apa yang telah diberikan nya kepadaku”

Maafkan jikalau diri ini selalu berbuat kesalahan kepadamu
Maafkan jikalau diri ini belum bisa membahagiakanmu
Maafkan jikalau diri ini selalu mengganggu waktu tenangmu
Maafkan jikalau diri ini selalu menambah kekawatiranmu
Dan kini
Bahtera yang kutumpangi akhirnya sudah sampai
Bersama dayung biduk yang mewarnai
Kuingin kau tetap berada disisiku saat ini
Agar aku sanggup melewati pusaran kebahagian dengan suka cita dihati

Ibu..
Izinkan aku memeluk hatimu
agar aku bisa merasakan apa yang engkau rasakan dari sakit yang tak Berbekas.