Keberadaan ‘KUBURAN’ di Sileang Leang Kawasan Kaldera Toba Mulai Diragukan

242

PI NEWS.com.AJIBATA ||| Getolnya sebahagian warga Sigapiton, Desa Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa untuk mempertahankan tanah yang diklaim sebagai Ulayat mereka dibuktikan dengan adanya ‘Kuburan/Tambak’ (Makam) sekitar 10x10m diantara jalan lintas dikawasan Kaldera Toba, Sileang-leang Desa Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata ternyata penuh misteri dan bahkan, cerita Tambak/Makam yang disanapun diduga tanpa Fosil dan terkesan mengada-ngada.

Hal itu berkali-kali disampaikan Pahala Sirait (67) yang juga keturunan Raja Bius dari Desa Pardamean Sibisa Pahala dan mengatakan seluas 279 Ha lahan yang akan dikelola BPODT saat ini sudah diserahkan kepada Pemerintahsejak tahun 1952 dibarengi dengan sejumlah bundel (berkas-berkasnya) obyeknya dari Pardembanan Julu, Marata, Motung sampai Harangan Nadua terus ke Sidugul Kecamatan Ajibata dan jika BPODT mau mengelola itu semuanya dipersilahkan, kami tidak ada yang keberatan sebab kami sudah merasakan dampak pembanguan jalan menuju perkampungan kami hampir setara dengan jalan Tol, Presiden juga sudah berkunjung ke Sibisa, jadi pembangunan kawasan wisata di Sibisa ini sangat kami dukung, untuk itulah kami ingatkan supaya jangan ribut dikampung orang, sebab lahan tersebut bukan tanah wilayat adat Desa Sigapiton, Kata Pahala dengan tegas.

“Saya berani bertaruh, silahkan kuburan/makam itu digali kembali, saya pastikan disana tidak ada tulangbelulang manusia, dan jika mereka beralasan sudah pernah diambil dan dipindahkan ke tempat lain, kapan dan dimana wujudnya saat ini, dan utnuk itulah silahkan hadirkan Tim Forensik dari Kepolisian, chek aja bekas tanah itu,apa pernah disana ada jasad yang dikuburkan atau tidak, dan saya pastikan tidak pernah ada makam disana, masa ada makam orang lain di daerah kami, tanpa sepengetahuan Raja Bius Sibisa ini, Ujar Pahala saat dikonfirm kembali, Senin (30/9) jam 10.35 Wib.

Sekedar untuk diketahui lagi, Saya pernah mengelola lahan itu hingga bertahun-tahun, sejak tahun 90an menanam cabe, jahe dan lainnya, tidak ada yang melarang saya bertani dan tumpang sari disana, tidak pula menemukan Kuburan/Makam atau bentuk lain disana, akan tetapi kalau pemerintah mau mengelolanya kembali yah, kami persilahkan sebab sudah diserahkan nenek moyang kami kepada Pemerintah kala itu. Dan selama saya bertani disana, saya tidak pernah menemukan ‘Kuburan’ apapun disana, koq boro-boro akhir-akhir ini heboh dengan kuburan yang menjadi ‘modus klami ulayat mereka ditanah Ulayat kami, Kata Pahala.
Jadi silahkanlah itu dibongkar dan diratakan saja, sebab lahan yang mereka klaim sebagai kuburan keluarganya disana, itu tidak benar, kata Pahala.

Jadi lahan tersebut dulunya sudah pernah diserahkan orang tua Raja Bius Sirait kepada pemerintah semenjak 1952 dilengkapi dengan satu berkas surat tanah, mulai dari Ajibata, Pardembanan Julu, Marata, Motung sampai Harangan Nadua terus ke Sidugul, Kata Pahala.

Pahala Sirait juga mengatakan, supaya Polres Tobasa mengecek kembali siapa saja yang ikut melakukan aksi yang sampai menghebohkan itu, sebab diantara yang melakukan aksi itu bukanlah warga Sigapiton, maka tolong didalami lagi supaya tidak terulang kembali, Ujar Pahala.

Salah seorang sumber di Mapolres Tobasa terkait pernyataan Pahala yang mendukung pihak kepolisian untuk membongkar Kuburan itu dan menghadirkan tim Forensik dari Polres atau Poldasu saat membongkar Makam di Sileangleang itu menyampaikan, akan meneruskan informasi itu kepada Pimpinannya, dan jika diperlukan tentu pihak Polres akan mempertimbangkan hal tersebut, Ujar Sumber.||| ZeNo

Editor : Zul